Thursday, June 16, 2011

Siami: Saya Tak Mau Anak Saya Diajari Curang


Koalisi Masyarakat Pendukung Kejujuran mengadakan telekoferensi dengan Siami (32), ibu yang membongkar kecurangan saat ujian nasional di sekolah anaknya, Alif (13), di SDN 2 Gadel, Surabaya. Dalam telekonferesni itu, Siami menanggpi permintaan masyarakat Gadel yang memintanya kembali ke rumah. Ia bersama keluarganya diusir dari tempat tinggalnya setelah mengungkap kecurangan UN. Menurut Siami, belum saatnya ia kembali.

"Memang ada salah satu tokoh masyarakat ke Gresik ke rumah orangtua saya dan ajak kembali saya ke sana (Gadel). Tapi saya belum bisa kembali. Kami butuhkan waktu. Saya pasti akan kembali entah kapan. Anak saya pun demikian, tapi nanti saya pasti akan kembali. Itu rumah saya juga," ujar Siami, dari Surabayan, Kamis (16/6/2011).

Siami menuturkan, baru satu orang tokoh yang mendatanginya mengatasnamakan warga sekitar, tetapi tak ada satu pun warga yang meminta maaf padanya dan keluarga secara langsung. Namun, ia menyatakan ikhlas dan tidak menyimpan dendam kepada warga.

Siami juga mengaku tak takut ketika semua orang memusuhi keluarganya akibat pelaporannya.

"Saya melangkah pun tidak sendiri ada dua wali murid yang dukung saya. Lalu mereka mundur. Saya mengerti itu. Saya juga takut mereka juga akan mengalami seperti saya (diusir). Tetapi mereka diam-diam tetap mendukung dan support saya dari belakang," tambahnya.

Ketika ditanya mengapa ia bersikeras untuk membongkar kecurangan itu, Siami mengatakan tak bisa menyimpan beban ketidakjujuran itu selamanya. Siami mengaku, keinginan guru Alif bertolak belakang dengan hati nuraninya, meskipun modus mereka mengatakan bahwa membagi jawaban merupakan kesempatan berbuat baik.

"Ini tidak sesuai dengan hati nurani saya dan anak saya Alif. Saya sangat kecewa sekali. Kami semaksimal untuk menjadikan anak kami pintar, jujur, soleh. Kenapa anak saya sejak dini sudah diajar berbuat kecurangan. Mau jadi apa anak saya nanti kalau diajari tidak jujur seperti itu," tuturnya.

Siami berharap kejadian yang menimpa anaknya tidak akan pernah terjadi lagi di dunia pendidikan. "Agar bangsa ini diisi dengan anak-anak jujur yang bisa membangun bangsanya," katanya. KOMPAS.com

No comments:

Post a Comment